Media Cyber Indonesia

Caption Foto : Ilustrasi Foto Penderita Kanker. (Foto: Ist./Net.)

Kisah Pasien Kanker yang Pernah Berobat ke Luar Negeri, Bedanya dengan di Dalam Negeri?

VersanewsJakarta – Banyak orang Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri dengan berbagai alasan, beragam penyakit, dan berbagai negara. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun ikut mengeluhkan hal tersebut karena dinilai turut menyebabkan kerugian ekonomi negara.

Namun, memilih di mana akan berobat dan menyembuhkan penyakit adalah hak setiap orang. Apalagi jika mereka memang punya biaya untuk melakukannya. Seorang penyintas kanker payudara bernama Esta (bukan nama sebenarnya) pun membagikan pengalamannya berobat di luar dan dalam negeri.

Esta sempat menjalani pengobatan di sebuah rumah sakit di Singapura sekitar 12 tahun lalu setelah didiagnosis kanker. Untungnya, sebagian biaya berobat ikut ditanggung tempatnya bekerja. Ia pun menjelaskan alasannya memilih rutin terbang ke negeri jiran untuk berobat.

“Kepingin mendapatkan kejelasan atas penyakit dan second opinion karena di Jakarta sudah dianggap stadium lanjut sementara di Mount Elizabeth Singapura dapat stadium 3B, beda tipis tapi lumayan bikin sedikit optimis,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya daftar antrean untuk konsultasi dengan dokter kanker paling top di Jakarta pada waktu itu harus menunggu sebulan, baru bisa ketemu, sementara sakitnya sudah tidak karuan.

“Tahu sendirilah kanker, nyerinya kayak apa. Jadi, gue pilih di Mt. E untuk konsul dengan dokter paling top di sana saat itu (dr. Ang Peng Tiam). Alhamdulillah, bisa langsung datang dan ditangani, pakai antre juga tapi antreannya bisa diperkirakan jamnya,” lanjut karyawan di sebuah perusahaan konsultan itu.

Tanpa janji muluk
Ia mengaku tidak heran bila banyak orang Indonesia yang bersedia terbang jauh untuk mengobati penyakitnya. Menurutnya, dokter di luar kadang bisa menjadi pendengar yang baik.

“Mau dengar keluhan dan pertanyaan pasien, enggak nakut-nakutin dengan diagnosa yang seram-seram tapi juga enggak kasih harapan yang ketinggian. Misalnya kanker gue kan sudah metastase/menjalar ke getah bening, jadi gue tanya kemungkinan sembuh ada enggak? Dia cuma bilang sakit gue ini treatable, bisa di-mantain dengan pengobatan yang ada saat itu. Tapi kalau kesembuhan dia enggak bisa menjanjikan karena kanker suka muncul lagi dan dia cuma dokter yang mengupayakan kesembuhan tapi yang nentuin bakal sembuh atau enggak cuma Tuhan,” kisahnya.

Tahun lalu, kankernya muncul kembali. Namun kali ini ia tidak berobat ke luar negeri. Ia menjalani rangkaian pengobatan dan terapi di sebuah rumah sakit di Kota Bekasi. Esta mengaku cukup puas dengan pelayanan rumah sakit tersebut.

“Berobat di Bekasi juga asik karena enggak sangka BPJS benar bisa gratis,” ujarnya.

Ia hanya kasihan melihat tenaga medis, dokter, dan perawat karena pasien BPJS benar-benar membludak. Banyak sekali pasien kanker pengguna BPJS, antrean membludak.

“Harus sabar dan waktu untuk konsul dokter juga terbatas karena lo pasti enggak akan tega lihat ratusan teman yang sudah antre berjam-jam. Kualitas penanganan dokter dan suster bagus, cukup sigap, dan komunikasi dua arah juga oke. Tapi mungkin kurang maksimal juga untuk pasien dengan sakit yang sudah parah karena menurut gue mereka butuh waktu yang lebih lama untuk diperiksa. Mungkin kasusnya agak beda kalau pasiennya non-BPJS, mereka bisa lebih santai untuk konsultasi,” paparnya. 

Ia juga membagi pengalamannya sebagai pasien kanker. Menurutnya, di Singapura penanganannya memang cepat, profesional, dan proporsional. Misalnya urusan lab, pindai tulang atau CT scan, bisa satu hari. Lalu, besoknya bertemu dokter dan kemoterapi. 

Ia merasa kemoterapi di Singapura tak seberat di Indonesia. Di sana ia bisa naik kereta MRT, bus, jalan-jalan dulu ke mal, lalu pulang ke Jakarta naik feri lewat Batam, atau pesawat. Sesampainya di Jakarta, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus Damri.

“Berdiri di Damri tanpa lemas, mual, dan lain-lain. Besoknya ke kantor kayak biasa. Tapi di Indonesia, OMG, sudah kayak mau game over, beda banget. Mungkin jenis obat atau ramuan chemo cocktail-nya yang beda atau mungkin umur gue yang sudah terlalu tua. Tapi in terms of services dari paramedis di sini baik-baik banget, superhelpful, enggak ada yang judes. Padahal gue kan cuma pasien BPJS, jadi terharu,” kisah wanita paruh baya ini.

Sumber: tempo.co

About The Author